Aku hampir lupa pada
cerobong asap aneh yang menjulang di tengah atap rumahmu yang kecokelatan.
Desain yang tidak biasa di tengah rumah-rumah tradisional yang sering kutemui
di Kyoto. Katamu, kau sering menggantungkan mimpimu di sana saat malam
natal-berharap Tuan Santa datang dengan jubah merah dan jenggot putihnya yang
lembut, menghampiri mimpimu dan membawanya pada Tuhan. Ya! Kukira semuanya
hanya omong kosong... bualan seorang laki-laki berusia 25 tahun yang dari lahir
tidak pernah mendapatkan hadiah natal. Hingga akhirnya...
***
***
11.55 p.m
24 Desember
"Kau sudah
makan?" sapaan ramahmu itu seketika terasa begitu hangat. Kau menarik
sudut bibirmu secara simetris. Melengkung sempurna. Tipis dan... manis. Hingga
secara tak sadar, aku menahan napas. Melihat sebuah panorama menyejukkan yang
benar-benar Tuhan ciptakan tepat dihadapanku. "Natsumi-chan, kau sudah
makan?"
Ah! Aku menelan napasku
utuh. Hampir tersedak dengan kalimat halusmu yang menggantung lembut.
"Sudah."
Jemari kokohmu itu
lagi-lagi menarik pergelangan tanganku dengan sekali sentakan pelan. Menarikku
masuk ke dalam rumahmu yang beraroma jahe seperti biasa.
*
Nyaman. Menikmati malam
natal dengan cokelat panas, memantau bara api yang melapukkan kayu-kayu kering
di perapian kecil, dan... menikmati malam ini dengan kau... mata hijaumu yang
bening, suara beratmu yang hangat, cara berjalanmu yang sedikit pincang... dan
semua yang melekat di ragamu.
"Kau sudah
menggantungkan mimpimu?" aku bertanya pelan tanpa memandangmu. Sibuk
mengawasi warna merah menyala dari api kecil yang menjilat-jilat dinding
perapian di depan sana.
"Belum..." kau
menggeleng lemah, menyesap cokelat hangatmu sekali lagi kemudian mendesah lega.
"Kau mau menggantungkan mimpimu juga?"
"Jangan
bergurau!" aku tertawa singkat, memandangmu yang melirikku.
"Aku tak punya mimpi, kau tahu?"
Kau tersenyum sekilas.
Senyum yang masih sama dengan yang tadi. "Kau yakin?"
Sekejap, senyumku yang
mengembang berubah menjadi garis datar. Hah! Tidak punya mimpi, ya? Sejujurnya
aku punya, tapi aku tidak mungkin mengatakan mimpiku pada seseorang yang
kuimpikan.
Untuk gadis yang tak
punya keluarga, dengan wajah standar, pekerjaan yang tidak terlalu
menguntungkan, dan kesepian seperti aku... menikah dengan laki-laki tampan,
pengertian, mapan, dan hangat sepertimu adalah satu-satunya mimpi yang dapat
terbayang di otakku.
Aku menarik napas,
"Aku... punya satu mimpi."
Mata sipitmu membelalak
penasaran. Senyum lebar merekah. "Aku boleh tahu?"
Ah! Aku benci pertanyaan
itu.
"Tidak."
jawabku tegas.
Kau menghela napas
panjang. Sedikit kecewa. Meletakkan cangkir biru tuamu di lantai dengan cepat.
Berusaha bangkit. "Kau memang keras kepala. Kalau begitu, ayo naik ke
atap. Temani aku menggantungkan mimpiku."
"Sungguh? Kau akan
naik ke atap dan menaruh mimpi-mimpimu di sana?" aku terperanjat. Kukira
semua omong kosong. Kukira 'menggantungkan mimpi' adalah kiasan yang berarti
berdoa saat malam natal. Tapi... ini sungguhan?
"Iya, aku serius
dengan apa yang kulakukan, Natsumi-chan..." kau terus berjalan, menjawabku
tanpa melihat ke arahku. "Ayo naik ke atap! Sudah kusiapkan tangga di
samping rumah."
***
Dari atas sini semuanya
terlihat monokrom. Pepohonan pucat, atap-atap rumah sebelah yang kehitaman,
langit mendung yang gelap, dan... dingin. Membuat otakku tak bisa mencerna apa
yang sebenarnya kulakukan di atap rumah ini.
"Aku sudah menaruh
impianku di dalam kotak ini. Kau benar-benar tidak menggantungkan
mimpimu?" kau bertanya sekali lagi sambil mengeluarkan kotak kecil
keemasan dari balik jaket tebalmu.
Aku menggeleng pelan.
"Tidak.."
"Jangan salahkan
Tuhan jika memang mimpimu tak terwujud, karna kau sama sekali tak pernah
menghargai mimpi-mimpimu sendiri." kau berkata tegas, dengan intonasi yang
tetap hangat. Tidak terdengar seperti sedang menekanku.
Aku menghela napas,
"Hah! Baiklah... Tahun depan, akan kugantungkan mimpiku bersamamu. Apa kau
senang?" aku mengerucutkan bibir. Berpura-pura kesal dan membuatmu tertawa
ringan. Membuatmu mengelus kepalaku.
Kau tersenyum hangat.
Merengkuh bahuku yang hampir rontok karna kedinginan dan lupa memakai jaket
tebal. "Jika mimpiku ini terwujud, mungkin kau tak bisa menggantung
mimpimu bersamaku lagi, Natsumi-chan."
Ada setitik sesak yang
perlahan menggumpal. Membuatku merasakan perasaan aneh yang seketika menebal,
mencekat pangkal tenggorokanku. Ah! Ada apa ini?
"Kau akan
menggantungkan mimpi yang mana kali ini?" tanyaku ragu.
Rengkuhan tanganmu di
bahuku semakin mengerat. Menyandarkan kepalamu pada kepalaku yang terasa berat.
"Menikah..." bisikmu.
Napasku semakin mencekik.
"Dengan...?"
Kau memelukku. Sangat
erat. "Dengan Aizawa Mia. Doakan aku, ya!"
Ah! Tuhan!!
Matikan aku sekarang!!
*END*
MOCCA
AURORA
MALANG,
30 OKTOBER 2013
NOTE :
SPESIAL
BUAT TEMEN SAYA YANG DITINGGAL NIKAH SAMA PACARNYA :d
"tENANG, NAK... SAHABAT-SAHABATMU MASIH MENCINTAIMU..." :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar