Selasa, 29 Oktober 2013

NIGHTMARE

Aku hampir lupa pada cerobong asap aneh yang menjulang di tengah atap rumahmu yang kecokelatan. Desain yang tidak biasa di tengah rumah-rumah tradisional yang sering kutemui di Kyoto. Katamu, kau sering menggantungkan mimpimu di sana saat malam natal-berharap Tuan Santa datang dengan jubah merah dan jenggot putihnya yang lembut, menghampiri mimpimu dan membawanya pada Tuhan. Ya! Kukira semuanya hanya omong kosong... bualan seorang laki-laki berusia 25 tahun yang dari lahir tidak pernah mendapatkan hadiah natal. Hingga akhirnya...

***

11.55 p.m
24 Desember

"Kau sudah makan?" sapaan ramahmu itu seketika terasa begitu hangat. Kau menarik sudut bibirmu secara simetris. Melengkung sempurna. Tipis dan... manis. Hingga secara tak sadar, aku menahan napas. Melihat sebuah panorama menyejukkan yang benar-benar Tuhan ciptakan tepat dihadapanku. "Natsumi-chan, kau sudah makan?"
Ah! Aku menelan napasku utuh. Hampir tersedak dengan kalimat halusmu yang menggantung lembut. "Sudah."
Jemari kokohmu itu lagi-lagi menarik pergelangan tanganku dengan sekali sentakan pelan. Menarikku masuk ke dalam rumahmu yang beraroma jahe seperti biasa.

*
Nyaman. Menikmati malam natal dengan cokelat panas, memantau bara api yang melapukkan kayu-kayu kering di perapian kecil, dan... menikmati malam ini dengan kau... mata hijaumu yang bening, suara beratmu yang hangat, cara berjalanmu yang sedikit pincang... dan semua yang melekat di ragamu.
"Kau sudah menggantungkan mimpimu?" aku bertanya pelan tanpa memandangmu. Sibuk mengawasi warna merah menyala dari api kecil yang menjilat-jilat dinding perapian di depan sana.
"Belum..." kau menggeleng lemah, menyesap cokelat hangatmu sekali lagi kemudian mendesah lega. "Kau mau menggantungkan mimpimu juga?"
"Jangan bergurau!" aku tertawa singkat, memandangmu yang melirikku.  "Aku tak punya mimpi, kau tahu?"
Kau tersenyum sekilas. Senyum yang masih sama dengan yang tadi. "Kau yakin?"
Sekejap, senyumku yang mengembang berubah menjadi garis datar. Hah! Tidak punya mimpi, ya? Sejujurnya aku punya, tapi aku tidak mungkin mengatakan mimpiku pada seseorang yang kuimpikan.
Untuk gadis yang tak punya keluarga, dengan wajah standar, pekerjaan yang tidak terlalu menguntungkan, dan kesepian seperti aku... menikah dengan laki-laki tampan, pengertian, mapan, dan hangat sepertimu adalah satu-satunya mimpi yang dapat terbayang di otakku.
Aku menarik napas, "Aku... punya satu mimpi."
Mata sipitmu membelalak penasaran. Senyum lebar merekah. "Aku boleh tahu?"
Ah! Aku benci pertanyaan itu.
"Tidak." jawabku tegas.
Kau menghela napas panjang. Sedikit kecewa. Meletakkan cangkir biru tuamu di lantai dengan cepat. Berusaha bangkit. "Kau memang keras kepala. Kalau begitu, ayo naik ke atap. Temani aku menggantungkan mimpiku."
"Sungguh? Kau akan naik ke atap dan menaruh mimpi-mimpimu di sana?" aku terperanjat. Kukira semua omong kosong. Kukira 'menggantungkan mimpi' adalah kiasan yang berarti berdoa saat malam natal. Tapi... ini sungguhan?
"Iya, aku serius dengan apa yang kulakukan, Natsumi-chan..." kau terus berjalan, menjawabku tanpa melihat ke arahku. "Ayo naik ke atap! Sudah kusiapkan tangga di samping rumah."

***

Dari atas sini semuanya terlihat monokrom. Pepohonan pucat, atap-atap rumah sebelah yang kehitaman, langit mendung yang gelap, dan... dingin. Membuat otakku tak bisa mencerna apa yang sebenarnya kulakukan di atap rumah ini.
"Aku sudah menaruh impianku di dalam kotak ini. Kau benar-benar tidak menggantungkan mimpimu?" kau bertanya sekali lagi sambil mengeluarkan kotak kecil keemasan dari balik jaket tebalmu.
Aku menggeleng pelan. "Tidak.."
"Jangan salahkan Tuhan jika memang mimpimu tak terwujud, karna kau sama sekali tak pernah menghargai mimpi-mimpimu sendiri." kau berkata tegas, dengan intonasi yang tetap hangat. Tidak terdengar seperti sedang menekanku.
Aku menghela napas, "Hah! Baiklah... Tahun depan, akan kugantungkan mimpiku bersamamu. Apa kau senang?" aku mengerucutkan bibir. Berpura-pura kesal dan membuatmu tertawa ringan. Membuatmu mengelus kepalaku.
Kau tersenyum hangat. Merengkuh bahuku yang hampir rontok karna kedinginan dan lupa memakai jaket tebal. "Jika mimpiku ini terwujud, mungkin kau tak bisa menggantung mimpimu bersamaku lagi, Natsumi-chan."
Ada setitik sesak yang perlahan menggumpal. Membuatku merasakan perasaan aneh yang seketika menebal, mencekat pangkal tenggorokanku. Ah! Ada apa ini?
"Kau akan menggantungkan mimpi yang mana kali ini?" tanyaku ragu.
Rengkuhan tanganmu di bahuku semakin mengerat. Menyandarkan kepalamu pada kepalaku yang terasa berat. "Menikah..." bisikmu.
Napasku semakin mencekik. "Dengan...?"
Kau memelukku. Sangat erat. "Dengan Aizawa Mia. Doakan aku, ya!"

Ah! Tuhan!!
Matikan aku sekarang!!

*END*

MOCCA AURORA
MALANG, 30 OKTOBER 2013

NOTE :
SPESIAL BUAT TEMEN SAYA YANG DITINGGAL NIKAH SAMA PACARNYA :d
"tENANG, NAK... SAHABAT-SAHABATMU MASIH MENCINTAIMU..." :*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar