Menulis adalah caraku berbicara pada
diriku sendiri dengan cara lain. Membuatku berpikir tentang berbagai sudut
pandang dalam menghadapi satu masalah. Dengan menulis aku jadi bebas. Bebas
menjadi seorang yang terluka karena kesepian. Bebas menjadi orang yang sangat
menikmati kesepian dengan tawa. Bebas menjadi seorang psikopat yang membunuh
karakter yang dibencinya. Bebas menjadi seorang pecinta yang rela mati demi
kekasihnya. Bebas menjadi pendiam yang hanya bicara pada batinnya sendiri.
Bebas menjadi secret admirer yang manis dan kadang menakutkan. Bebas menjadi
pengagummu. Bebas disampingmu. Bebas menjadi apapun yang kuinginkan... tapi
dalam kenyataannya, sebebas apapun aku bicara pada diri sendiri... aku butuh
oranglain yang bisa kusandari saat aku lelah, yang menjadi telingaku saat aku
tuli akan nasihat apapun, yang menjadi bibirku saat aku tak ingin bicara
apapun, yang jadi mataku saat semuanya gelap, yang menjadi hidungku saat aku
tercekik kesendirian dan lupa aroma kebersamaan...
Aku tahu…
Semuanya memang seperti ini. Mereka mengenalku
dengan sangat baik. Senyumku, tawaku, candaanku yang aneh, dan sifatku yang
kekanak-kanakan. Tapi satu hal yang tak mereka mengerti, mereka sama sekali tak
mengenal masalahku kan? Hanya hujatan kosong saat mereka bilang aku galauan,
aku melankolis, aku seorang yang sedikitpun tak bisa kuat menghadapi masalah
yang mereka anggap kecil.
Dewasa, huh?
Satu kata yang sekarang hampir hilang
di hidupku.
Kesepian? Tidak. Ada Tuhan yang
memelukku saat aku menangis kacau. Ada Tuhan yang tetap menopangku saat aku
benar-benar lumpuh. Ada Tuhan yang merengkuhku dalam hujan saat aku ingin hilang…
Ya! Ada Tuhan.
Tapi… mengertikah? Aku juga butuh
kalian.