Sabtu, 07 Desember 2013

Kenapa?



Dan aku hanya menangis. Meratapi semuanya sendirian… aku hampir terjatuh… tak bisa berdiri dan hanya bisa merangkak pergi dari semua yang kuhadapi. Apa ada yang paduli? Aku tak tau. Aku seolah-olah buta pada mereka yang memberiku perhatian. Aku seolah tuli pada mereka yang ingin menghiburku. Lalu aku harus bagaimana? Aku mencoba… sekuat tenaga untuk bercerita tentang kepenatan yang membuatku sesak. Tapi ketika aku datang pada mereka… mereka tertawa, senang, menikmati hidup dengan tenang… apa aku tega untuk merusak suasana? Tidak. Pada akhirnya aku hanya diam… dan ikut tertawa bersama mereka….
Aku tau aku berlebihan. Bertingkah seolah-olah hanya aku yang punya masalah besar.
Tapi sungguh… maaf jika aku mengganggumu. Mengganggu matamu… mengganggu telingamu dengan tawaku yang menyedihkan…
Aku… hanya ingin didengar. Tapi kenapa?

Minggu, 01 Desember 2013

Kesepian, huh?



Menulis adalah caraku berbicara pada diriku sendiri dengan cara lain. Membuatku berpikir tentang berbagai sudut pandang dalam menghadapi satu masalah. Dengan menulis aku jadi bebas. Bebas menjadi seorang yang terluka karena kesepian. Bebas menjadi orang yang sangat menikmati kesepian dengan tawa. Bebas menjadi seorang psikopat yang membunuh karakter yang dibencinya. Bebas menjadi seorang pecinta yang rela mati demi kekasihnya. Bebas menjadi pendiam yang hanya bicara pada batinnya sendiri. Bebas menjadi secret admirer yang manis dan kadang menakutkan. Bebas menjadi pengagummu. Bebas disampingmu. Bebas menjadi apapun yang kuinginkan... tapi dalam kenyataannya, sebebas apapun aku bicara pada diri sendiri... aku butuh oranglain yang bisa kusandari saat aku lelah, yang menjadi telingaku saat aku tuli akan nasihat apapun, yang menjadi bibirku saat aku tak ingin bicara apapun, yang jadi mataku saat semuanya gelap, yang menjadi hidungku saat aku tercekik kesendirian dan lupa aroma kebersamaan...
Aku tahu…
Semuanya memang seperti ini. Mereka mengenalku dengan sangat baik. Senyumku, tawaku, candaanku yang aneh, dan sifatku yang kekanak-kanakan. Tapi satu hal yang tak mereka mengerti, mereka sama sekali tak mengenal masalahku kan? Hanya hujatan kosong saat mereka bilang aku galauan, aku melankolis, aku seorang yang sedikitpun tak bisa kuat menghadapi masalah yang mereka anggap kecil.
Dewasa, huh?
Satu kata yang sekarang hampir hilang di hidupku.
Kesepian? Tidak. Ada Tuhan yang memelukku saat aku menangis kacau. Ada Tuhan yang tetap menopangku saat aku benar-benar lumpuh. Ada Tuhan yang merengkuhku dalam hujan saat aku ingin hilang…
Ya! Ada Tuhan.
Tapi… mengertikah? Aku juga butuh kalian.

Selasa, 29 Oktober 2013

NIGHTMARE

Aku hampir lupa pada cerobong asap aneh yang menjulang di tengah atap rumahmu yang kecokelatan. Desain yang tidak biasa di tengah rumah-rumah tradisional yang sering kutemui di Kyoto. Katamu, kau sering menggantungkan mimpimu di sana saat malam natal-berharap Tuan Santa datang dengan jubah merah dan jenggot putihnya yang lembut, menghampiri mimpimu dan membawanya pada Tuhan. Ya! Kukira semuanya hanya omong kosong... bualan seorang laki-laki berusia 25 tahun yang dari lahir tidak pernah mendapatkan hadiah natal. Hingga akhirnya...

***

11.55 p.m
24 Desember

"Kau sudah makan?" sapaan ramahmu itu seketika terasa begitu hangat. Kau menarik sudut bibirmu secara simetris. Melengkung sempurna. Tipis dan... manis. Hingga secara tak sadar, aku menahan napas. Melihat sebuah panorama menyejukkan yang benar-benar Tuhan ciptakan tepat dihadapanku. "Natsumi-chan, kau sudah makan?"
Ah! Aku menelan napasku utuh. Hampir tersedak dengan kalimat halusmu yang menggantung lembut. "Sudah."
Jemari kokohmu itu lagi-lagi menarik pergelangan tanganku dengan sekali sentakan pelan. Menarikku masuk ke dalam rumahmu yang beraroma jahe seperti biasa.

*
Nyaman. Menikmati malam natal dengan cokelat panas, memantau bara api yang melapukkan kayu-kayu kering di perapian kecil, dan... menikmati malam ini dengan kau... mata hijaumu yang bening, suara beratmu yang hangat, cara berjalanmu yang sedikit pincang... dan semua yang melekat di ragamu.
"Kau sudah menggantungkan mimpimu?" aku bertanya pelan tanpa memandangmu. Sibuk mengawasi warna merah menyala dari api kecil yang menjilat-jilat dinding perapian di depan sana.
"Belum..." kau menggeleng lemah, menyesap cokelat hangatmu sekali lagi kemudian mendesah lega. "Kau mau menggantungkan mimpimu juga?"
"Jangan bergurau!" aku tertawa singkat, memandangmu yang melirikku.  "Aku tak punya mimpi, kau tahu?"
Kau tersenyum sekilas. Senyum yang masih sama dengan yang tadi. "Kau yakin?"
Sekejap, senyumku yang mengembang berubah menjadi garis datar. Hah! Tidak punya mimpi, ya? Sejujurnya aku punya, tapi aku tidak mungkin mengatakan mimpiku pada seseorang yang kuimpikan.
Untuk gadis yang tak punya keluarga, dengan wajah standar, pekerjaan yang tidak terlalu menguntungkan, dan kesepian seperti aku... menikah dengan laki-laki tampan, pengertian, mapan, dan hangat sepertimu adalah satu-satunya mimpi yang dapat terbayang di otakku.
Aku menarik napas, "Aku... punya satu mimpi."
Mata sipitmu membelalak penasaran. Senyum lebar merekah. "Aku boleh tahu?"
Ah! Aku benci pertanyaan itu.
"Tidak." jawabku tegas.
Kau menghela napas panjang. Sedikit kecewa. Meletakkan cangkir biru tuamu di lantai dengan cepat. Berusaha bangkit. "Kau memang keras kepala. Kalau begitu, ayo naik ke atap. Temani aku menggantungkan mimpiku."
"Sungguh? Kau akan naik ke atap dan menaruh mimpi-mimpimu di sana?" aku terperanjat. Kukira semua omong kosong. Kukira 'menggantungkan mimpi' adalah kiasan yang berarti berdoa saat malam natal. Tapi... ini sungguhan?
"Iya, aku serius dengan apa yang kulakukan, Natsumi-chan..." kau terus berjalan, menjawabku tanpa melihat ke arahku. "Ayo naik ke atap! Sudah kusiapkan tangga di samping rumah."

***

Dari atas sini semuanya terlihat monokrom. Pepohonan pucat, atap-atap rumah sebelah yang kehitaman, langit mendung yang gelap, dan... dingin. Membuat otakku tak bisa mencerna apa yang sebenarnya kulakukan di atap rumah ini.
"Aku sudah menaruh impianku di dalam kotak ini. Kau benar-benar tidak menggantungkan mimpimu?" kau bertanya sekali lagi sambil mengeluarkan kotak kecil keemasan dari balik jaket tebalmu.
Aku menggeleng pelan. "Tidak.."
"Jangan salahkan Tuhan jika memang mimpimu tak terwujud, karna kau sama sekali tak pernah menghargai mimpi-mimpimu sendiri." kau berkata tegas, dengan intonasi yang tetap hangat. Tidak terdengar seperti sedang menekanku.
Aku menghela napas, "Hah! Baiklah... Tahun depan, akan kugantungkan mimpiku bersamamu. Apa kau senang?" aku mengerucutkan bibir. Berpura-pura kesal dan membuatmu tertawa ringan. Membuatmu mengelus kepalaku.
Kau tersenyum hangat. Merengkuh bahuku yang hampir rontok karna kedinginan dan lupa memakai jaket tebal. "Jika mimpiku ini terwujud, mungkin kau tak bisa menggantung mimpimu bersamaku lagi, Natsumi-chan."
Ada setitik sesak yang perlahan menggumpal. Membuatku merasakan perasaan aneh yang seketika menebal, mencekat pangkal tenggorokanku. Ah! Ada apa ini?
"Kau akan menggantungkan mimpi yang mana kali ini?" tanyaku ragu.
Rengkuhan tanganmu di bahuku semakin mengerat. Menyandarkan kepalamu pada kepalaku yang terasa berat. "Menikah..." bisikmu.
Napasku semakin mencekik. "Dengan...?"
Kau memelukku. Sangat erat. "Dengan Aizawa Mia. Doakan aku, ya!"

Ah! Tuhan!!
Matikan aku sekarang!!

*END*

MOCCA AURORA
MALANG, 30 OKTOBER 2013

NOTE :
SPESIAL BUAT TEMEN SAYA YANG DITINGGAL NIKAH SAMA PACARNYA :d
"tENANG, NAK... SAHABAT-SAHABATMU MASIH MENCINTAIMU..." :*



Jumat, 18 Oktober 2013

The Darkness Spring


“Kau baik-baik saja?” aku menahan napas, membiarkannya meneguk sebotol bir dengan begitu lepas.
Dia memejam. Tak mengangguk. Tak menggeleng. Hanya terus meneguk cairan itu hingga decak puas mengakhiri tegukannya yang mengambang.
“Naoki…” aku menepuk bahunya.
Dia tertunduk, menyembunyikan mata hitam hangat itu di balik poni panjangnya yang menjuntai. Dia terlihat… suram. Rapuh seperti bunga plum yang pucat di atas kami. Ringkih seperti tunas-tunas kecil yang mudah patah. Kontras sekali dengan warna rumput yang mulai tumbuh di sela kaki kami –hijau segar, memecah bayangan monokrom musim dingin yang berakhir beberapa minggu lalu.
“Keputusanmu?” dia berbisik pelan. Berat. Seolah-olah sedang menahan sesuatu di pangkal lidahnya. 
Aku diam. Apa yang sebenarnya bisa kulakukan agar Naoki bahagia?
“Siapa yang kau pilih?” tanyanya datar.
Apa aku harus jujur?
Setitik rasa nyeri lambat laun semakin besar. Menggumpal. Membuatku sesak dan susah bicara. Aku tercekat.  Menarik napas. Menelan ludah. Menelan suaraku, “Matsumoto… Hiro.”
Ya! Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuat Naoki bahagia. Karna pada akhirnya, aku hanya… memilih laki-laki lain.
“Aku mencintaimu,” dia tertunduk. Melemahkan suaranya, “...tapi kenapa kau diciptakan sebagai adik kandungku?”
Entah. Getar suaranya membuat warna-warna segar di sekelilingku mendadak jadi pucat. Memutih. Seperti kembali pada musim lalu… ketika Naoki melamarku di tengah salju.
                                                         
*END*




Rabu, 02 Oktober 2013

Hear Me



Aku hanya kadang ingin didengar. Seperti tanah yang tanpa beban di serbu suara gemuruh hujan. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya membuatku takut terjatuh. Ya! Takut terjatuh lebih jauh, dalam sebuah pesona yang membuatku kadang merasa senang… tapi tak jarang membuatku menderita.
“Kau baik?” dia tersenyum.
Hah! Ya! Senyum indah yang sepertinya memang tak pernah bisa jadi mutlak untukku. Senyum yang melengkung istimewa dengan dua sudut bibir tertarik sempurna.
“Ah…” aku menelan napas. Tidak! Tidak! Lebih tepatnya menelan kegugupan. “Baik…”
“Menangis?” mata kecokelatannya menerobos iris hitamku tanpa permisi.
Aku lagi-lagi tergagap. “T-tidak.”
Dia menghela napas. Terdengar sedikit… sesak.
“Sepertinya ada yang salah denganmu…” dia meletakkan tasnya dengan kasar di sampingku. Duduk berjongkok di hadapanku. Seolah-olah sedang bicara pada lututku yang kelewat gemetaran.
“Aku…” aku memutar otak. Memejam singkat. Menimbang-nimbang perasaan… antara jujur atau kembali berbohong dan meneruskan semua drama kecil yang kadang membuatku gila.
Aku hanya ingin didengar…
Ya! Hanya itu yang ingin kukatakan. Tapi entah… aku memilih untuk berkata… “Aku baik-baik saja.”
Dan dia lagi-lagi menghela napas. Membuang muka. Kesal. Dan tampak putus asa. Mungkin dia bosan.
“Aku tahu…” dia menepuk tanganku. “Kau hanya ingin didengar kan?”
Aku tertunduk. Semua perasaan mengumpul secara sepihak, di pelupuk mata. Siap terjatuh. Dan tumpah di hadapannya…
“Key…” dia meremas jemariku yang terasa remuk. “Maaf. Aku tak selalu ada untuk mendengarmu…”
“Aku…”
Dia memotong kata-kataku secara langsung. Tanpa memberiku kesempatan untuk bicara. “Aku selalu sibuk dengan pacarku. Aku kurang bisa mendengar sahabatku sendiri… jadi sekarang,” dia menghela napas, “Bicaralah… aku akan mendengarkanmu…”
Hah!! Tuhan!!
Seandainya aku bisa…
Aku akan berkata sekarang juga… bahwa aku mencintainya.