Aku hanya kadang ingin didengar. Seperti tanah yang tanpa beban di
serbu suara gemuruh hujan. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya membuatku
takut terjatuh. Ya! Takut terjatuh lebih jauh, dalam sebuah pesona yang
membuatku kadang merasa senang… tapi tak jarang membuatku menderita.
“Kau baik?” dia tersenyum.
Hah! Ya! Senyum indah yang sepertinya memang tak pernah bisa jadi
mutlak untukku. Senyum yang melengkung istimewa dengan dua sudut bibir tertarik
sempurna.
“Ah…” aku menelan napas. Tidak! Tidak! Lebih tepatnya menelan
kegugupan. “Baik…”
“Menangis?” mata kecokelatannya menerobos iris hitamku tanpa
permisi.
Aku lagi-lagi tergagap. “T-tidak.”
Dia menghela napas. Terdengar sedikit… sesak.
“Sepertinya ada yang salah denganmu…” dia meletakkan tasnya dengan
kasar di sampingku. Duduk berjongkok di hadapanku. Seolah-olah sedang bicara
pada lututku yang kelewat gemetaran.
“Aku…” aku memutar otak. Memejam singkat. Menimbang-nimbang perasaan…
antara jujur atau kembali berbohong dan meneruskan semua drama kecil yang
kadang membuatku gila.
Aku hanya ingin
didengar…
Ya! Hanya itu yang ingin kukatakan. Tapi entah… aku memilih untuk
berkata… “Aku baik-baik saja.”
Dan dia lagi-lagi menghela napas. Membuang muka. Kesal. Dan tampak
putus asa. Mungkin dia bosan.
“Aku tahu…” dia menepuk tanganku. “Kau hanya ingin didengar kan?”
Aku tertunduk. Semua perasaan mengumpul secara sepihak, di pelupuk
mata. Siap terjatuh. Dan tumpah di hadapannya…
“Key…” dia meremas jemariku yang terasa remuk. “Maaf. Aku tak selalu
ada untuk mendengarmu…”
“Aku…”
Dia memotong kata-kataku secara langsung. Tanpa memberiku kesempatan
untuk bicara. “Aku selalu sibuk dengan pacarku. Aku kurang bisa mendengar
sahabatku sendiri… jadi sekarang,” dia menghela napas, “Bicaralah… aku akan
mendengarkanmu…”
Hah!! Tuhan!!
Seandainya aku bisa…
Aku akan berkata sekarang juga… bahwa aku mencintainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar