Rabu, 02 Oktober 2013

Hear Me



Aku hanya kadang ingin didengar. Seperti tanah yang tanpa beban di serbu suara gemuruh hujan. Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya membuatku takut terjatuh. Ya! Takut terjatuh lebih jauh, dalam sebuah pesona yang membuatku kadang merasa senang… tapi tak jarang membuatku menderita.
“Kau baik?” dia tersenyum.
Hah! Ya! Senyum indah yang sepertinya memang tak pernah bisa jadi mutlak untukku. Senyum yang melengkung istimewa dengan dua sudut bibir tertarik sempurna.
“Ah…” aku menelan napas. Tidak! Tidak! Lebih tepatnya menelan kegugupan. “Baik…”
“Menangis?” mata kecokelatannya menerobos iris hitamku tanpa permisi.
Aku lagi-lagi tergagap. “T-tidak.”
Dia menghela napas. Terdengar sedikit… sesak.
“Sepertinya ada yang salah denganmu…” dia meletakkan tasnya dengan kasar di sampingku. Duduk berjongkok di hadapanku. Seolah-olah sedang bicara pada lututku yang kelewat gemetaran.
“Aku…” aku memutar otak. Memejam singkat. Menimbang-nimbang perasaan… antara jujur atau kembali berbohong dan meneruskan semua drama kecil yang kadang membuatku gila.
Aku hanya ingin didengar…
Ya! Hanya itu yang ingin kukatakan. Tapi entah… aku memilih untuk berkata… “Aku baik-baik saja.”
Dan dia lagi-lagi menghela napas. Membuang muka. Kesal. Dan tampak putus asa. Mungkin dia bosan.
“Aku tahu…” dia menepuk tanganku. “Kau hanya ingin didengar kan?”
Aku tertunduk. Semua perasaan mengumpul secara sepihak, di pelupuk mata. Siap terjatuh. Dan tumpah di hadapannya…
“Key…” dia meremas jemariku yang terasa remuk. “Maaf. Aku tak selalu ada untuk mendengarmu…”
“Aku…”
Dia memotong kata-kataku secara langsung. Tanpa memberiku kesempatan untuk bicara. “Aku selalu sibuk dengan pacarku. Aku kurang bisa mendengar sahabatku sendiri… jadi sekarang,” dia menghela napas, “Bicaralah… aku akan mendengarkanmu…”
Hah!! Tuhan!!
Seandainya aku bisa…
Aku akan berkata sekarang juga… bahwa aku mencintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar