“Kau baik-baik
saja?” aku menahan napas, membiarkannya meneguk sebotol bir dengan begitu
lepas.
Dia memejam.
Tak mengangguk. Tak menggeleng. Hanya terus meneguk cairan itu hingga decak
puas mengakhiri tegukannya yang mengambang.
“Naoki…” aku
menepuk bahunya.
Dia tertunduk,
menyembunyikan mata hitam hangat itu di balik poni panjangnya yang menjuntai.
Dia terlihat… suram. Rapuh seperti bunga plum yang pucat di atas kami. Ringkih
seperti tunas-tunas kecil yang mudah patah. Kontras sekali dengan warna rumput
yang mulai tumbuh di sela kaki kami –hijau segar, memecah bayangan monokrom
musim dingin yang berakhir beberapa minggu lalu.
“Keputusanmu?”
dia berbisik pelan. Berat. Seolah-olah sedang menahan sesuatu di pangkal
lidahnya.
Aku diam. Apa
yang sebenarnya bisa kulakukan agar Naoki bahagia?
“Siapa yang kau pilih?” tanyanya datar.
“Siapa yang kau pilih?” tanyanya datar.
Apa aku harus
jujur?
Setitik rasa
nyeri lambat laun semakin besar. Menggumpal. Membuatku sesak dan susah bicara.
Aku tercekat. Menarik napas. Menelan ludah. Menelan suaraku, “Matsumoto…
Hiro.”
Ya! Tidak ada
yang bisa kulakukan untuk membuat Naoki bahagia. Karna pada akhirnya, aku
hanya… memilih laki-laki lain.
“Aku
mencintaimu,” dia tertunduk. Melemahkan suaranya, “...tapi kenapa kau
diciptakan sebagai adik kandungku?”
Entah. Getar
suaranya membuat warna-warna segar di sekelilingku mendadak jadi pucat.
Memutih. Seperti kembali pada musim lalu… ketika Naoki melamarku di tengah
salju.
*END*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar