Jumat, 18 Oktober 2013

The Darkness Spring


“Kau baik-baik saja?” aku menahan napas, membiarkannya meneguk sebotol bir dengan begitu lepas.
Dia memejam. Tak mengangguk. Tak menggeleng. Hanya terus meneguk cairan itu hingga decak puas mengakhiri tegukannya yang mengambang.
“Naoki…” aku menepuk bahunya.
Dia tertunduk, menyembunyikan mata hitam hangat itu di balik poni panjangnya yang menjuntai. Dia terlihat… suram. Rapuh seperti bunga plum yang pucat di atas kami. Ringkih seperti tunas-tunas kecil yang mudah patah. Kontras sekali dengan warna rumput yang mulai tumbuh di sela kaki kami –hijau segar, memecah bayangan monokrom musim dingin yang berakhir beberapa minggu lalu.
“Keputusanmu?” dia berbisik pelan. Berat. Seolah-olah sedang menahan sesuatu di pangkal lidahnya. 
Aku diam. Apa yang sebenarnya bisa kulakukan agar Naoki bahagia?
“Siapa yang kau pilih?” tanyanya datar.
Apa aku harus jujur?
Setitik rasa nyeri lambat laun semakin besar. Menggumpal. Membuatku sesak dan susah bicara. Aku tercekat.  Menarik napas. Menelan ludah. Menelan suaraku, “Matsumoto… Hiro.”
Ya! Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuat Naoki bahagia. Karna pada akhirnya, aku hanya… memilih laki-laki lain.
“Aku mencintaimu,” dia tertunduk. Melemahkan suaranya, “...tapi kenapa kau diciptakan sebagai adik kandungku?”
Entah. Getar suaranya membuat warna-warna segar di sekelilingku mendadak jadi pucat. Memutih. Seperti kembali pada musim lalu… ketika Naoki melamarku di tengah salju.
                                                         
*END*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar